Cegah Klaster Keluarga, RS di Buleleng Diminta Perketat Prosedur Besuk Pasien

Dipublikasi pada : 12 Januari 2021 | 50 kali Dibaca


Guna menekan penyebaran COVID-19 serta munculnya klaster baru yang timbul di rumah sakit, seluruh Rumah Sakit (RS) yang ada di Buleleng, Bali diminta memperketat kembali prosedur penunggu atau besuk pasien.

Rumah sakit diminta tidak hanya fokus melakukan penanganan terhadap pasien yang terpapar COVID-19. Melainkan juga ikut melakukan pencegahan agar virus tidak menular ke keluarga atau penunggu pasien.

Hal ini diputuskan oleh Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Buleleng Gede Suyasa saat memimpin Rapat Koordinasi Evaluasi Penanganan COVID-19 bersama seluruh jajaran Direktur Rumah Sakit (RS) Negeri dan Swasta se-Kabupaten Buleleng di ruang kerjanya, Selasa (12/1/2021).

Lebih jauh, Suyasa menjelaskan bahwa upaya lain yang akan dilakukan juga dengan memperketat prosedur bagi keluarga yang menjaga pasien COVID-19 dengan kategori tidak mandiri. Ke depannya jika ada pasien terkonfirmasi yang diisolasi dengan kategori tidak mandiri, diharapkan hanya ada satu orang keluarga yang menjaga untuk memperkecil kemungkinan penyebaran virus.

"Penunggu pasien harus dibatasi. Kalau bisa hanya untuk pasien yang kondisinya tidak mampu, seperti stroke. Itu pun harus satu orang saja, dan dilengkapi APD. Jangan sampai satu keluarga ikut menjaga pasien, karena ini berpeluang terjadinya penularan klaster keluarga," jelas dia.

Sementara, bagi pasien COVID-19 dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG), Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Satgas Penanganan COVID-19 telah menyediakan opsi untuk isolasi di RS atau hotel berbintang. Tentunya dengan mengikuti protokol kesehatan ketat. “Sehingga, tidak ada lagi masyarakat dengan status OTG yang takut untuk diisolasi. Karena kenyamanan serta protokol kesehatan yang dijalankan sudah dipastikan dengan baik oleh Satgas,” ucap Suyasa.

Rapat Koordinasi ini juga dilakukan untuk mengevaluasi upaya-upaya bersama yang telah dijalankan untuk menurunkan angka penyebaran COVID-19. Begitu pula dengan menurunkan angka kematian di Buleleng.

Mendukung hal tersebut, Suyasa mengatakan untuk saat ini Buleleng telah memiliki dua mesin uji SWAB-PCR yang beroperasi dengan baik dan mampu melakukan tes terhadap 188 spesimen per harinya.

“Pemkab Buleleng akan menambah satu mesin lagi, untuk memaksimalkan jumlah tes SWAB-PCR dalam upaya menurunkan Covid-19 di Kabupaten Buleleng,” kata dia.

Akhir rapat, dia mengharapkan agar kerja sama antar pihak, baik pemerintah, RS Negeri dan Swasta di Buleleng tetap berjalan baik. Demi menurunkan kasus COVID-19 di Buleleng. "Mari kita bersama-sama bekerja keras untuk meningkatkan angka kesembuhan pasien COVID-19 dan berupaya semaksimal mungkin untuk menekan angka kematian di Buleleng. Berkoordinasi untuk kebaikan bersama, saling mendukung dan melengkapi sehingga kondisi Covid-19 di Kabupaten Buleleng terus membaik,” tutup Suyasa.